Berikut beberapa tips dalam forum ilmiah (seminar/sidang) dari pengalaman pribadi dan orang lain. Semoga bermanfaat.
1. Persiapkan materi dengan baik
2. Baca materi sebanyak-banyaknya, tapi jangan SKS. Sebaiknya ini dicicil semenjak pencarian judul/topik penelitian.
3. Forum ilmiah merupakan ajang evaluasi, jadi santai aja. Sampaikan apa yang anda fahami dan jangan 'ngeyel'. Terima masukan dan kritikan audiens dengan hati terbuka.
4. Sabar, karena belum tentu semua orang sepandai anda dalam menyusun logika berfikir.
5. Bahasa yang sederhana tapi sistematis biasanya lebih mudah ditangkap audiens.
6. Kalau menggunakan slide untuk presentasi, lebih baik banyak gambarnya dari pada banyak tulisannya. Buktikan bahwa jurus satu gambar mewakili sejuta kata ternyata masih ampuh. Sebagai bahan contekan lihat presentasinya Steve Jobs atau AlGore di Inconvenient Truth.
7. Mengingat segala kesalahan dan segera meminta maaf.
8. Memaafkan kesalahan orang lain agar serasa lewat tol.
9. Restu orang tua dan keluarga bisa menjadi pelecut semangat dan menjaga emosi.
10. Berwasilah dengan usaha-usaha tersebut (termasuk dengan meminta maaf) jauh lebih utama daripada berwasilah melalui kuburan.
11. Munajat ke hadirat yang Maha Kuasa, karena Ia-lah pemilik segala Daya dan Upaya.
12. Santai dan hadapi dengan senyuman :)
Lanjut...
Tampilkan postingan dengan label Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kehidupan. Tampilkan semua postingan
23 Agustus 2009
3S untuk S1 (Persiapan Meraih Sarjana)
Di semester akhir, mahasiswa selalu disibukkan dengan mata kuliah 6 sks yang bernama SKRIPSI. Mata kuliah dengan jumlah sks paling banyak. Tidak seperti mata kuliah yang lain, untuk sks yang satu ini tidak boleh dikerjakan dengan SKS (Sistem Kebut Semalam). Bisa-bisa langsung divonis "Tidak Lulus" sebelum ujian dimulai.Skripsi, seminar, dan sidang sering kali menjadi momok bagi mahasiswa tingkat akhir. Bermula dari pencarian masalah, pemilihan judul skripsi, pengajuan konsep penelitian ke dosen pembimbing. Lalu dilanjutkan pembuatan kerangka penelitian kemudian proposal lengkap, pengajuan ke pembimbing. Tentu harus disyukuri kalau semua tahap awal skripsi dilalui dengan baik. Tapi juga harus lebih bersyukur kalau dalam melintasi tahapan-tahapan tersebut banyak menginjak batu kerikil. Dengan begitu, penelitian yang akan kita lakukan akan semakin matang. Allah tahu kemampuan masing-masing kemampuan hamba-Nya.
* Berawal dari masalah
Dari mana seharusnya memulai penelitian?? Jawaban singkatnya "dari masalah". Ingat tujuan bersekolah adalah untuk menuntut ilmu. Dengan ilmu tersebut diharapkan berbagai permasalahan kehidupan dapat teratasi sedikit demi sedikit. Lalu hubungannya dengan penelitian?? Ya, penelitian dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan kehidupan tersebut dengan berdasar ilmu. Bukan awang-awang. Sederhana bukan. Oleh karena itu, ketika beberapa teman bertanya tentang judul penelitian apa yang cocok dengannya. Jawabannya pun sederhana, cari masalah disekitar lalu teliti dan beri solusi.
* Cari penelitian yang lalu
Mengunjungi perpustakaan dan menjelajah internet merupakan cara yang banyak digunakan peneliti untuk mencari berbagai informasi tentang masalah yang akan/sedang ditelitinya. Kalau suatu masalah sudah ada yang meneliti, buat apa diteliti lagi. Kecuali ada hipotesa yang berbeda atau perbaikan metode dapat memperbaiki penelitian sebelumnya.
Penelusuran informasi melalui internet kini semakin mudah dengan banyaknya perguruan tinggi yang menyediakan koleksi dijital mulai dari skripsi, disertasi, tesis, lomba karya ilmiah, penelitian hibah bersaing, dan sebagainya. Hanya diperlukan kesabaran dan kemauan membaca untuk dapat melakukannya. Tentunya, penelusuran koleksi dijital dapat menjadi dengan lebih efektif dan efisien dari pada berziarah dari satu perpus ke perpus lain. Namun sayangnya, tidak semua perpustakaan dijital mampu menyediakan dengan baik database penelitiannya.
Termasuk dalam hal ini adalah pencarian referensi atau yang lebih lazim dikenal dengan studi literatur/pustaka. Studi literatur ini yang nantinya akan dijadikan pijakan dalam penelitian. Membandingkan penelitian dengan yang lalu-lalu, mencari fakta-fakta ilmiah yang telah diungkap dalam penelitian-terkait sebelumnya, menelisik kelebihan dan kekurangan penelitian sendiri, termasuk juga mencari mitra koalisi dan oposisinya alias mencari fakta-fakta yang dapat mendukung dan melemahkannya ide penelitian.
* Penyusunan proposal
Tahapan ini usahakan jangan langsung sekali jadi. Bukan bermaksud memperlambat kelulusan, tapi malah untuk mematangkan apa yang akan diteliti nantinya. Biasakan diskusi dengan teman sekosan atau se-bimbingan, atau dengan siapa saja yang dianggap layak. Tentu dengan pembimbing juga. Dengan adanya diskusi ini, akan terjadi tukar pikiran yang berakibat pada semakin terbukanya jalan pikiran kita atas masalah yang akan diteliti. Dalam bahasa yang lain, yang kata orang lebih elit, dapat merangkai logika yang tercecer. Disini perlu diakui bahwa prosesor multicore dapat menyelesaikan tugas dengan lebih efisien.
* Mulai meneliti
Sebenarnya ini bukanlah pekerjaan inti, tapi tetap utama. Malah yang menjadi inti adalah perancangan penelitian itu sendiri. Jika dalam tahap perancangan sudah matang, di tahap ini peneliti tinggal melaksanakan saja apa yang telah dirancangnya. Sebaliknya, jika perancangan belum matang, tentu peneliti akan kesulitan melaksanakan penelitiannya. Tahap perancangan dimulai dari pencarian masalah (ide) sampai penyusunan proposal. Lantas, jika bukan pekerjaan ini, tapi kok tetap utama?? Ya iyalah, kalau peneliti tidak melewati tahap ini, hampir dipastikan (99%) peneliti akan sia-sia penelitianya karena tidak ada data yang didapat.
Di tahap ini, biasanya godaan terbesar muncul. Bagi yang penelitian bidang sosial, diduga keras akan menghadapi orang lain, sedangkan karakter orang berbeda-beda. Do'a dan usaha yang ulet tentu tidak lupa dilakukan. Yang penelitian bidang eksak, jangan dikira cobaannya sedikit. Coba tengok peneliti yang di laboratorium, misalnya, kadang kala harus rela tidak tidur berhari-hari hanya untuk menunggu satu atau dua perlakuan dari lima perlakuan yang akan diberikan. Tapi bagaimanapun, disitulah nikmatnya penelitian. Kata kawan, 'kalo gak gini gak namanya skripsi'.
Ada godaan lain yang juga tidak kalah menariknya. Bagi orang yang lemah imannya, godaan ini mungkin menjadi terlalu berat. Bayangkan, bisa jadi ia harus menjual 'kehormatannya'. Dan ini yang sering menjadi titik lemah mahasiswa. Apalagi kalau sudah dekat deadline, godaan jadi serasa teman. Kalau seseorang lulus (baca:berteman) dengan godaan ini, mau tidak mau ia akan bergelar A.MD (Ahli Manipulasi Data). Meskipun ia mahasiswa S1. Perjuangan selama 4 tahun harus diakhiri dengan menjual 'kehormatannya'. Sungguh tragis, berakhir dengan kebohongan.
Lantas bagaimana cara mengantisipasi agar data yang dihasilkan cantik? Pertama, bisa dengan memilih rancangan percobaan yang tepat. Lalu melakukan minimal dua kali ulangan dengan masing-masing ulangan duplo. Memperbanyak sampel juga bisa menurunkan resiko data jelek. Semakin banyak sampel berarti semakin 'mendekati' populasi, sehingga data yang dihasilkan semakin 'mendekati' sebenarnya. Dengan kata lain tingkat error-nya semakin kecil.
* Analisa hasil
Disinilah saat-saat yang paling menyenangkan, terutama bagi yang senang bercerita atau membuat novel. Aktor (baca: data) sudah ada, masalah juga. Tinggal mengembangkan cerita dari masalah dan aktor tersebut. Kemudian memberikan bumbu penyedap dalam cerita tersebut agar tetap ilmiah. Dengan mengutip pernyataan profesor X dalam jurnal Y, misalnya. Bagian ini memang benar-benar bagian yang paling menyenangkan. Peneliti 'bebas' berimajinasi dengan dasar-dasar teori dan fakta yang telah ia miliki. Bebas mengungkapkan dalam sastra ilmiah yang ia patuhi. Tapi ingat, jangan asal 'bercerita', karena 'cerita' tersebut akan dipertanggungjawabkan dihadapan Tuhan dan Publik. Jangan sampai 'kehormatan' yang telah dijual, kini diobral.
Berbagai dengan teman dan pembimbing diperbolehkan disini. Bahkan sangat dianjurkan. Jangan sampai cerita yang disusun melebar kemana-mana sehingga akhirnya tidak menemukan titik ujung. Atau teknik penyelesaian masalah yang tidak cantik sehingga membuat pembaca kabur setelah membaca dua halaman 'novel' anda. Imaginasi boleh bebas, tetapi kebebasan tetap ada batasnya. Cara penyampaian kata, penyusunan alur cerita (baca: alur analisa/pembahasan) menjadi sangat penting disini. Mungkin yang dimaksud A, tapi bisa jadi yang ditangkap pembaca B. Jadi sekali lagi, silahkan memanfaatkan teman dan pembimbing sebagai jasa konsultan gratis. Paling mentok cuma mengucapkan 'Terima kasih' dan 'Datang ya ke sidangku besok!!'
Ada satu poin yang menunjukkan apakah layak seseorang menyandang gelar ilmuwan, yakni kejujuran. Ilmuwan sejati akan selalu jujur dengan fakta-fakta yang ia dapatkan meskipun itu buruk. Karena dengan demikian, ia mendapat kesempatan untuk memahami bentuk lain dari ciptaan-Nya. Juga mendapat kesempatan untuk memperoleh lebih banyak hikmah alam semesta. Apalagi, seorang ilmuwan akan mendedikasikan pemikirannya untuk kesejahteraan umat manusia. Dengan demikian, penambahan kata 'tidak' (pada fakta) berarti merubah kata kesejahteraan menjadi ke-'tidak'-sejahteraan.
Beberapa tahun yang lalu, disalah satu rubrik IPTEK di salah satu harian nasional, diberitakan kebohongan yang dilakukan seorang profesor dari Korea Selatan. Dalam penelitiannya tentang kloning, ia mennyatakan telah berhasil melakkan kloning dengan metode tertentu. Namun ternyata itu hanya rekayasa belaka. Foto-foto hasil percobaannya yang ditunjukkan ke publik merupakan hasil rekayasa. Maka ia harus rela melepas gelar keilmuannya disamping juga menerima sanksi moral. Dan tentu nanti di akhirat ... (silahkan dilanjutkan sendiri)
* LPJ
Sebagai bentuk dari tanggung jawab sebagai anggota masyarakat ilmiah, penelitian yang telah dilakukan pun harus dipertanggungjawabkan ke publik. Bentuknya bisa bermacam-macam, bisa melalui seminar, publikasi jurnal, buku, laporan skripsi bagi mahasiswa S1, dsb. Karena dalam daftar mata kuliah hanya tercantum skripsi dan seminar, maka disini hanya dibicarakan dua hal tersebut.
Seminar bisa dikatakan sebagai salah satu forum ilmiah. Yang berarti, semua yang dibicarakan dan dilakukan di dalamnya harus memenuhi syarat dan kaidah ilmiah. Misalnya, argumen yang diucapkan harus mempunyai dasar yang kuat, bahkan sangat direkomendasikan berbasis data (jika ada). Selain itu, cara berfikir yang digunakan pun harus ilmiah. Bisa memilih logika yang digunakan antar deduktif, induktif, gabungan keduanya, atau yang lain. Asalkan dapat dipertanggungjawabkan. Kalau kata orang jawa 'ojo angger njeplak'. Memenuhi kaidah ilmiah berarti, dalam bertutur atau menanggapi pertanyaan dan pernyataan harus memenuhi aturan yang telah ditetapkan forum, melalui moderator misalnya.
Setelah melalui sesi seminar, saatnya hasil penelitian diuji keabsahannya dalam forum tertutup (atau bisa juga terbuka). Inilah saat yang biasa disebut dengan nama sidang. Sebenarnya tidak ada yang spesial dari sidang ini, kecuali keputusan akhir dosen penguji yang 'menentukan' masa depan mahasiswa yang uji. Ibarat diantara dua pintu, kalau yang dibuka pintu kelulusan, bersyukurlah. Tapi kalau sebaliknya, ya konsekuensinya harus diterima dengan lapang dada. Tentunya akan ada banyak hikmah yang bisa diambil dari sana. Oleh karena itu, usaha, do'a, dan mental menjadi modal berharga.
Menjadikan seminar dan ujian skripsi (a.k.a sidang) sebagai momen evaluasi adalah pilihan yang tepat. Karena memang itulah salah satu tujuannya, untuk mengevaluasi seluruh rangkaian dan hasil penelitian agar menjadi lebih sempurna. Dengan demikian, celah kesalahan dapat diminimalkan. Sebaliknya, deg-degan dan menganggap seminar/sidang sebagai momok adalah pilihan terburuk. Karena hal ini merupakan salah satu upaya menutup pintu perbaikan yang juga berarti menutup pintu kebaikan. Padahal, kesempurnaan hanyalah milik Allah dan tidak diberikan pengetahuan (ilmu) kepada manusia melainkan hanya setetes air. Ikhlas memberi dan menerima adalah senjata ampuh menghadapi 2S (Seminar dan Sidang) ini.
* Kesimpulan
Ini adalah bagian paling umum (general) dari sebuah karya ilmiah. Pemilihan kata agar menjadi ringkas dan satu tafsiran harus diperhatikan. Namun yang paling penting dari bagian ini adalah jawaban atas pertanyaan yang diajukan dibagian pendahuluan (latar belakang, tujuan, dan rumusan masalah kalau ada). Jika pertanyaan yang diajukan di bagian pendahuluan terjawab dengan baik dan sempurna di kesimpulan, berarti senyum pun layak merekah di wajah anda.
* Niatkan semua karena Allah
Niat yang tulus hanya karena Allah semata akan membantu meneguhkan mental dan menstabilkan emosi. Juga membentengi diri dari cobaan-cobaan seperti di atas. Niatkan pula semua ini sebagai bagian dari menuntut ilmu, bukan bagian dari kewajiban yang mau tidak mau harus dilakukan untuk mendapatkan sarjana. Semoga Allah membimbing langkah kita, menunjukkan jalan yang benar, menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, menjauhkan dari segala kesulitan dan mendekatkan kepada kemudahan.
Rabbisrahli shadri, wa yassirli amri, wahlul 'uqdatan millisani, yafqohu qouli.
Amin.
Oh ya, bagi yang belum tahu, skripsi merupakan salah satu syarat kelulusan yang harus dijalani peserta didik strata satu untuk mendapatkan gelar kesarjanaannya. Salah satu cara untuk menyelesaikan skripsi adalah dengan melakukan penelitian. CMIIW :)
Lanjut...
16 Juli 2009
Matur Suwun Yo..
Ucapan ini seharusnya ditulis/ucapkan hampir sebulan yang lalu. Tapi tak apalah ditulis sekarang, mumpung ingat dari pada enggak sama sekali :)Trims kepada kawan-kawan yang telah mendoakan pada wisudaku kemarin 17 Juni 2009. Yang lewat sms mohon maaf jika ga dibalas. Ga sempat balas semua (sebagian besar). Diantaranya :
Khusnul, Mizan, mbak Nia, 'soulma', Gangga, Dodi, Yuris, Iza, Hari, Hafizh, Nandya, Mahardi, Yunita, HIMALOGIN, Reta, Rima, mas Tarkudi, mas Supre, mas Taufik, mas Fikri, seluruh teman-teman di TIN, FATETA, IPB, dan IMM. Juga teman-teman yang nge-sms tanpa nama (maaf, nomer anda belum tercantum di phonebook :) ). he..he..Siapapun kalian, I respect of you
Semoga Allah membalas kalian dengan balasan yang lebih baik. Yang sedang studi, semoga dimudahkan studinya, Yang lagi penelitian, semoga cepat selesai dan bermanfaat. Yang sedang kerja, semoga dilancarkan pekerjaannya. Yang sedang mencari kerja, semoga cepat dapat kerja. Yang sedang membangun usaha, semoga cepat berdiri usahanya. Yang mau nikah, semoga dilancarkan dan dijadikan keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Amin.
You're the best, frens.
Lanjut...
14 April 2008
HADE :), AMAN :|, DA'I :( Sekedar Catatan Pilkada
Tanggal tiga belas april (13/04) kemarin warga Jawa Barat serentak 'mencurahkan' isi hatinya lewat secarik kertas bergambar pasfoto enam orang calon Gubernur dan wakilnya. Benar, hari Ahad kemarin adalah hari Pesta Demokrasi di Jawa Barat atau yang lebih populer disebut Pilkada Jabar. Pada kesempatan Pilkada kali ini, saya mendapat amanah untuk menjadi Pemantau/Relawan dari JPPR dan memantau untuk desa Cibuntu, kecamatan Ciampea.
Dalam pemilihan di Desa ini banyak TPS memunculkan pasangan nomer 3 sebagai pemenang. Beberapa memunculkan nomer 2 sebagai pemenang dan hanya beberapa yang memunculkan nomer 1 sebagai pemenang. Di kecamatan Ciampea sendiri sampai saat ini, perolehan suara HADE masih memimpin. Apakah ini memang saatnya kaum muda yang memimpin, atau hanya karena figur populer Dede Yusuf? Ah, kita tidak sedang membahas itu. Tulisan ini bukan bermaksud menganalisa dari segi politik, tetapi hanya sebatas 'laporan' populer pelaksanaan pilkada Jawa Barat.
Dari data yang didapat beberapa relawan JPPR yang lain, terlihat bahwa tingkat partisipasi masyarakat masih kurang. Bahkan ada TPS yang tingkat partisipasinya di bawah 50%, artinya tidak sampai separuh dari pemilih terdaftar yang menggunakan hal pilihnya. Angka ini bisa menjadi evaluasi kita bersama untuk meningkatkan kesadaran politik masyarakat. Sebaliknya, yang agak menggembirakan, tingkat partisipasi pemilih perempuan di Pilkada ini sepertinya lebih baik daripada pemilih laki-laki. Bahkan, hal yang mengejutkan saya, dari data yang dihimpun dari berita acara pemungutan suara, di salah satu TPS kecamatan Ciampea (saya lupa nama desanya) tingkat partisipasi pemilih perempuang bisa dikatakan sangat baik, hanya satu (1) orang perempuan yang tidak menggunakan hak pilihnya dari seratusan pemilih perempuan terdaftar. Bukankah hal ini bisa membuat kita tersenyum.
Selama pelaksanaan pelaksanaan pemungutan suara, secara umum dapat dikatakan berjalan lancar. Intimidasi terhadap pemilih boleh dikatakan tidak ada. Keributan juga dilaporkan nihil. Keberatan dari saksi juga sepertinya tidak ada (berdasar berita acara di TPS, belum termasuk di PPK). Jangan sampai terjadi intimidasi terhadap pemilih, saksi, KPPS, ataupun pihak-pihak terkait lainnya. Kepala desa, petugas PPS, petugas KPPS, saksi, hingga masyarakat menyambut dengan tangan terbuka terhadap kehadiran pemantau independen semacam JPPR ini. Mereka bahkan mendukung kehadiran pemantau. Sambutan yang ramah inipun menjadikan pemantau menjadi lebih nyaman menjalankan tugasnya. Hal lain yang tidak kalah positifnya adalah semangat untuk menjalankan pemungutan suara di atas lapangan yang semi becek karena sore hari sebelumnya sempat hujan. Beberapa poin positif ini harus tetap dipertahankan, bahkan harus ditingkatkan.
Selain hal positif, dalam pelaksanaan pemungutan suara masih menyisakan beberapa catatan yang harus menjadi perhatian kita bersama. Mulai dari KPPS. Di TPS yang saya pantau, petugas KPPS malah bertanya kepada pemantau beberapa hal yang seharusnya petugas KPPS sudah mengerti. Misalnya, ketua KPPS bertanya tentang fungsi lembar surat keterangan pendamping bagi pemilih yang butuh pendamping. Dari wajah dan nada suaranya, terlihat dan terdengar bahwa petugas kurang memahami prosedur pelaksanaan pemungutan suara. Ada lagi hal lain, yakni ketika ada seorang pemilih yang membawa dua kartu pemilih dan undangannya dengan maksud untuk dia sendiri memilih dan satu lagi mewakilkan saudaranya untuk memilih. Pewakilan tersebut dilakukan dengan alasan sakit dan tidak bisa ke TPS. Menanggapi kejadian tersebut, petugas KPPS malah bertanya kepada saksi (dalam hal ini pemantau, karena di saat-saat awal petugas KPPS menyebut pemantau sebagai saksi) apakah diperbolehkan. Secara 'kasat mata' hal tersebut sangat tidak sesuai dengan konsep bebas dan rahasia, dimana setiap pemilih mendapatkan kebebasan untuk memilih calonnya dan disampaikan dengan rahasia. Seharusnya konsep seperti ini sudah ngelontok di kepala para petugas KPPS. Sebuah catatan yang mungkin dapat dijadikan masukan dalam pembentukan petugas KPPS di masa akan datang.
Demikianlah sedikit 'laporan' populer jalannya Pilkada Jawa Barat. Semoga dapat menjadi catatan dalam buku kita. Hal yang baik, mari kita tingkatkan, sedangkan yang masih kurang mari kita perbaiki. Semoga kesadaran politik masyarakat semakin meningkat.
Lanjut...
Dalam pemilihan di Desa ini banyak TPS memunculkan pasangan nomer 3 sebagai pemenang. Beberapa memunculkan nomer 2 sebagai pemenang dan hanya beberapa yang memunculkan nomer 1 sebagai pemenang. Di kecamatan Ciampea sendiri sampai saat ini, perolehan suara HADE masih memimpin. Apakah ini memang saatnya kaum muda yang memimpin, atau hanya karena figur populer Dede Yusuf? Ah, kita tidak sedang membahas itu. Tulisan ini bukan bermaksud menganalisa dari segi politik, tetapi hanya sebatas 'laporan' populer pelaksanaan pilkada Jawa Barat.
Dari data yang didapat beberapa relawan JPPR yang lain, terlihat bahwa tingkat partisipasi masyarakat masih kurang. Bahkan ada TPS yang tingkat partisipasinya di bawah 50%, artinya tidak sampai separuh dari pemilih terdaftar yang menggunakan hal pilihnya. Angka ini bisa menjadi evaluasi kita bersama untuk meningkatkan kesadaran politik masyarakat. Sebaliknya, yang agak menggembirakan, tingkat partisipasi pemilih perempuan di Pilkada ini sepertinya lebih baik daripada pemilih laki-laki. Bahkan, hal yang mengejutkan saya, dari data yang dihimpun dari berita acara pemungutan suara, di salah satu TPS kecamatan Ciampea (saya lupa nama desanya) tingkat partisipasi pemilih perempuang bisa dikatakan sangat baik, hanya satu (1) orang perempuan yang tidak menggunakan hak pilihnya dari seratusan pemilih perempuan terdaftar. Bukankah hal ini bisa membuat kita tersenyum.
Selama pelaksanaan pelaksanaan pemungutan suara, secara umum dapat dikatakan berjalan lancar. Intimidasi terhadap pemilih boleh dikatakan tidak ada. Keributan juga dilaporkan nihil. Keberatan dari saksi juga sepertinya tidak ada (berdasar berita acara di TPS, belum termasuk di PPK). Jangan sampai terjadi intimidasi terhadap pemilih, saksi, KPPS, ataupun pihak-pihak terkait lainnya. Kepala desa, petugas PPS, petugas KPPS, saksi, hingga masyarakat menyambut dengan tangan terbuka terhadap kehadiran pemantau independen semacam JPPR ini. Mereka bahkan mendukung kehadiran pemantau. Sambutan yang ramah inipun menjadikan pemantau menjadi lebih nyaman menjalankan tugasnya. Hal lain yang tidak kalah positifnya adalah semangat untuk menjalankan pemungutan suara di atas lapangan yang semi becek karena sore hari sebelumnya sempat hujan. Beberapa poin positif ini harus tetap dipertahankan, bahkan harus ditingkatkan.
Selain hal positif, dalam pelaksanaan pemungutan suara masih menyisakan beberapa catatan yang harus menjadi perhatian kita bersama. Mulai dari KPPS. Di TPS yang saya pantau, petugas KPPS malah bertanya kepada pemantau beberapa hal yang seharusnya petugas KPPS sudah mengerti. Misalnya, ketua KPPS bertanya tentang fungsi lembar surat keterangan pendamping bagi pemilih yang butuh pendamping. Dari wajah dan nada suaranya, terlihat dan terdengar bahwa petugas kurang memahami prosedur pelaksanaan pemungutan suara. Ada lagi hal lain, yakni ketika ada seorang pemilih yang membawa dua kartu pemilih dan undangannya dengan maksud untuk dia sendiri memilih dan satu lagi mewakilkan saudaranya untuk memilih. Pewakilan tersebut dilakukan dengan alasan sakit dan tidak bisa ke TPS. Menanggapi kejadian tersebut, petugas KPPS malah bertanya kepada saksi (dalam hal ini pemantau, karena di saat-saat awal petugas KPPS menyebut pemantau sebagai saksi) apakah diperbolehkan. Secara 'kasat mata' hal tersebut sangat tidak sesuai dengan konsep bebas dan rahasia, dimana setiap pemilih mendapatkan kebebasan untuk memilih calonnya dan disampaikan dengan rahasia. Seharusnya konsep seperti ini sudah ngelontok di kepala para petugas KPPS. Sebuah catatan yang mungkin dapat dijadikan masukan dalam pembentukan petugas KPPS di masa akan datang.
Demikianlah sedikit 'laporan' populer jalannya Pilkada Jawa Barat. Semoga dapat menjadi catatan dalam buku kita. Hal yang baik, mari kita tingkatkan, sedangkan yang masih kurang mari kita perbaiki. Semoga kesadaran politik masyarakat semakin meningkat.
Lanjut...
04 April 2008
SMS renungan
Baru saja sampe rumah (kontrakan) langsung dapat sms dari temen, si Idam. Setelah itu saya bales. Eh, dia bales lagi. Berikut ini log 'percakapan' selengkapnya :
Idam : Mlm dunia...
Saya : Malam
Idam : Dunia smkin sepi dr aktivitas..
Saya : Dunia sejenak mengingat Tuhannya..
Idam : Jk dunia sjnak mengingat tuhan kmn manusia?? Jk manusia mengingat tuhanx knp mrk msih bnyk bBUAT dosa?!
Saya : Tuhan memang adil. Dia yg mbolakbalikan hati mnusia.Siapa yg lengah bsiaplah ia btmn dosa.
Idam : Ya mgkn itu sbgian jwbn knp kt hrus percaya adax tuhan yg bsemayam dATAS arsy
Sayang setelah itu tema sms berubah. Seandainya 'percakapan' ini diteruskan, akan jadi apa ya..?
Lanjut...
Idam : Mlm dunia...
Saya : Malam
Idam : Dunia smkin sepi dr aktivitas..
Saya : Dunia sejenak mengingat Tuhannya..
Idam : Jk dunia sjnak mengingat tuhan kmn manusia?? Jk manusia mengingat tuhanx knp mrk msih bnyk bBUAT dosa?!
Saya : Tuhan memang adil. Dia yg mbolakbalikan hati mnusia.Siapa yg lengah bsiaplah ia btmn dosa.
Idam : Ya mgkn itu sbgian jwbn knp kt hrus percaya adax tuhan yg bsemayam dATAS arsy
Sayang setelah itu tema sms berubah. Seandainya 'percakapan' ini diteruskan, akan jadi apa ya..?
Lanjut...
25 Maret 2008
Perjalanan memecahkan rekor (2-Habis)
Penatnya....
Pfuuyy, helaan nafas lega berhembus dari hidung dan mulut. Jakarta, kami datang senin ini (24/03).
----lanjutan sebelumnya----
Stasiun Weleri yang ditunggu datang juga. Di stasiun ini hampir dipastikan penumpangnya bertambah. Benar. Keadaan semakin seru. Aksi langkah-melangkahi jasad manusia menjadi biasa di sini. Kereta berangkat lagi. Stasiun Batang muncul. Kemudian disusul Pekalongan. Di stasiun Pekalongan ini, gerbong kami kedatangan tamu mahasiswa pecinta alam (mapala) yang terlihat dari pakaian dan tas carrier yang mereka gunakan. Ternyata melewati jalan datar dengan kemiringan NOL derajat di dalam gerbong itu tak semudah mendaki Gunung dengan kemiringan 45 derajat. Begitulah mungkin salah satu perkataan hati mereka. Intinya bertambahlah sesak gerbongku tercinta ini.
Stasiun Brebes dan Tegal sudah terlewati. Tapi empat orang dari kami masih berdiri juga, belum duduk sama sekali. Lha yang satu lagi udah dapat tempat duduk? Sudah, karena dia cewek, kami usahakan kepada penumpang yang punya kursi agar diizinkan numpang duduk. Boleh juga akhirnya (berterimakasihlah kepada mereka). Yang cowok masih bertahan dengan posisinya masing-masing. Jadi laki-laki itu jangan manja. Selepas Tegal penumpang berdiri lain yang sudah merasakan duduk bergantian mengizinkan penumpang yang belum merasakan duduk untuk duduk. Bukan duduk di kursi tentunya, tetapi duduk di lantai kereta. Beruntung bagi mereka yang bisa meluruskan kaki, bagi yang tidak, meletakkan pantatpun wajib hukumnya mengucapkan hamdalah. Meskipun cuma 1-2 menit.
Saya sendiri baru bisa merasakan nikmat Tuhan yang berupa kemampuan duduk setelah sampai di stasiun Cirebon, sekitar pukul 01.30 dini hari. Kalau dihitung, dari Semarang, sekitar 7 jam berdiri. Subhanallah. Mampu juga saya ternyata. Itu belum seberapa, penumpang lain ada yang belum merasakan duduk sama sekali. Tapi nikmat itu tidak mampu saya pertahankan dalam waktu yang lama. Setelah kurang lebih satu jam duduk, saya rasa alangkah nikmatnya berdiri sambil menikmati pemandangan gelap gulita dan menanti kedatangan stasiun demi stasiun. Sampai di stasiun Haurgeulis (kalau ga salah tulisannya), secara resmi saya berdiri lagi bersama kawan-kawan lain. Giliran Mizan (salah seorang dari kami) duduk. Dimas pun (salah satu dari kami juga) masih merasakan nikmatnya duduk. Entah dengan Hafizh (laki-laki terakhir dari kami).
Nikmat juga duduk ternyata, tapi lebih nikmat lagi berdiri. Bergelantungan dengan tali tas yang diikatkan pada batang-batang besi rak tempat tas. Tidur sambil berdiri. Belajar menenangkan pikiran sadar dan membawanya ke alam bawah sadar. Menanggalkan semua pikiran sedih. Mengendapkan kepenatan dan menciptakan kedamaian serta kenyamanan. Ok, Bung. Perjuangan 'memecahkan rekor' masih belum selesai. Kita masih sampai di Stasiun Haurgeulis.
Perjalanan melintasi Jawa Barat terasa lama sekali dibandingkan dengan Jawa Tengah. Sebentar-sebentar kereta berhenti, entah itu menunggu kereta mewah lewat atau sekedar mendinginkan mesin untuk bersiap berakselerasi lebih gesit lagi. Mata ini sungguh tak sabar melihat tulisan stasiun Cikampek, Karawang, Bekasi, Jatinegara, dan yang ditunggu seluruh penumpang, Stasiun Senen. Benar-benar tak sabar. Bekali-kali melihat keluar jendela masih belum muncul juga stasiun-stasiun itu. Sekitar jam setengah lima baru masuk karawang kalau tidak salah. Kaki ini sudah meronta-ronta ingin berpindah tempat, minimal sekedar melipat sebentar. Benar-benar 'menyenangkan'. Penantian yang lama ditambah jeritan punggung seakan-akan mau patah. Kami hanya bisa berdiri dengan dua kaki berdempetan seperti sikap sempurna dalam pelajaran baris-berbaris. Tidak bisa bergerak kemana-mana. Diam. Bersyukurlah bagi mereka yang mendapatkan tempat duduk.
Keheningan di kereta kadang dipecahkan oleh gelak tawa kumpulan orang yang suka bergurau. Terhiburlah kami. Tawapun tak segan-segan meluncur dari mulut kami menyambut umpan-umpan lucu dari mulut mereka. Sebuah simbiosis mutualisme yang bermutu.
Adzan shubuh berkumandang ketika kereta melintas rel di antara (kira-kira) Karawang dan Bekasi. Hati mulai sedikit lega. Kaki mulai bisa diajak kompromi lagi. Sebentar lagi sampai. Mungkin satu jam lagi. Begitulah kira-kira rayuan Hati kepada Kaki memberi semangat agar tetap bersedia menyokong tubuh ini. Memasuki kota memang kereta tidak berani berjalan cepat. Menghormati penduduk dan mengurangi resiko tabrakan mungkin alasannya. Terhibur rasanya hati ini.
Kepuasan usaha 'memecahkan rekor' ini berakhir di stasiun Pasar Senen, Jakarta, hari Senin (24/03) sekitar pukul enam pagi. Alhamdulillah. Senyum dan ucapan selamat menyambut keberhasilan kami (tentu saja yang berdiri, yang duduk tentu belum berhasil). Jabat tangan pun tak luput dari perhatian kami. Kepuasan ini seperti berhasilnya kami lolos seleksi menjadi astronot yang sangat ketat itu. Sayang tidak ada media massa yang meliput waktu itu. Hanya media publikasi ini yang mendokumentasikan menit-menit perjalanan 'memecahkan rekor' berdiri dari Semarang ke Jakarta. Alhamdulillah, mungkin itulah satu kalimat yang cocok untuk mengungkapkan rasa senang kami.
Sebuah perjalanan panjang, kurang lebih sepuluh jam, Semarang-Jakarta. Sebuah perjuangan yang panjang 10-1 (sepuluh minus satu) jam. Sebuah perjalanan dan perjuangan yang layak mendapatkan bonus naik kereta dari stasiun Pasar Senen ke Jakarta Kota dengan bebas memilih tempat duduk. Sebuah penghargaan yang tak ternilai harganya yang diberikan oleh PT KAI. Terima kasih kami haturkan kepada mereka.
Selamat bagi teman-teman seperjuangan-semalaman-sekereta yang telah berhasil 'memecahkan rekor'. Semoga lain kali diliput media. Termasuh bagi Dimas, Mizan, Hafizh, Azhar, dan Rima yang telah ikut berjuang 'memecahkan rekor' dan siap dengan kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Semoga perjalanan kita mendapat berkah dan diridhoi Allah subhanahu wa ta'ala serta dapat menjadi pelajaran bagi semua.
Jangan lupa sertifikat penghargaan dapat diambil di Panitia :)
Jangan kapok mencoba sesuatu yang baru.
--salam--
foto menyusul :p
trims to : http://lanunlaut.blogspot.com/2007/02/perjalanan-panjang.html atas fotonya.
Lanjut...
Pfuuyy, helaan nafas lega berhembus dari hidung dan mulut. Jakarta, kami datang senin ini (24/03).
----lanjutan sebelumnya----
Stasiun Weleri yang ditunggu datang juga. Di stasiun ini hampir dipastikan penumpangnya bertambah. Benar. Keadaan semakin seru. Aksi langkah-melangkahi jasad manusia menjadi biasa di sini. Kereta berangkat lagi. Stasiun Batang muncul. Kemudian disusul Pekalongan. Di stasiun Pekalongan ini, gerbong kami kedatangan tamu mahasiswa pecinta alam (mapala) yang terlihat dari pakaian dan tas carrier yang mereka gunakan. Ternyata melewati jalan datar dengan kemiringan NOL derajat di dalam gerbong itu tak semudah mendaki Gunung dengan kemiringan 45 derajat. Begitulah mungkin salah satu perkataan hati mereka. Intinya bertambahlah sesak gerbongku tercinta ini.Stasiun Brebes dan Tegal sudah terlewati. Tapi empat orang dari kami masih berdiri juga, belum duduk sama sekali. Lha yang satu lagi udah dapat tempat duduk? Sudah, karena dia cewek, kami usahakan kepada penumpang yang punya kursi agar diizinkan numpang duduk. Boleh juga akhirnya (berterimakasihlah kepada mereka). Yang cowok masih bertahan dengan posisinya masing-masing. Jadi laki-laki itu jangan manja. Selepas Tegal penumpang berdiri lain yang sudah merasakan duduk bergantian mengizinkan penumpang yang belum merasakan duduk untuk duduk. Bukan duduk di kursi tentunya, tetapi duduk di lantai kereta. Beruntung bagi mereka yang bisa meluruskan kaki, bagi yang tidak, meletakkan pantatpun wajib hukumnya mengucapkan hamdalah. Meskipun cuma 1-2 menit.
Saya sendiri baru bisa merasakan nikmat Tuhan yang berupa kemampuan duduk setelah sampai di stasiun Cirebon, sekitar pukul 01.30 dini hari. Kalau dihitung, dari Semarang, sekitar 7 jam berdiri. Subhanallah. Mampu juga saya ternyata. Itu belum seberapa, penumpang lain ada yang belum merasakan duduk sama sekali. Tapi nikmat itu tidak mampu saya pertahankan dalam waktu yang lama. Setelah kurang lebih satu jam duduk, saya rasa alangkah nikmatnya berdiri sambil menikmati pemandangan gelap gulita dan menanti kedatangan stasiun demi stasiun. Sampai di stasiun Haurgeulis (kalau ga salah tulisannya), secara resmi saya berdiri lagi bersama kawan-kawan lain. Giliran Mizan (salah seorang dari kami) duduk. Dimas pun (salah satu dari kami juga) masih merasakan nikmatnya duduk. Entah dengan Hafizh (laki-laki terakhir dari kami).
Nikmat juga duduk ternyata, tapi lebih nikmat lagi berdiri. Bergelantungan dengan tali tas yang diikatkan pada batang-batang besi rak tempat tas. Tidur sambil berdiri. Belajar menenangkan pikiran sadar dan membawanya ke alam bawah sadar. Menanggalkan semua pikiran sedih. Mengendapkan kepenatan dan menciptakan kedamaian serta kenyamanan. Ok, Bung. Perjuangan 'memecahkan rekor' masih belum selesai. Kita masih sampai di Stasiun Haurgeulis.
Perjalanan melintasi Jawa Barat terasa lama sekali dibandingkan dengan Jawa Tengah. Sebentar-sebentar kereta berhenti, entah itu menunggu kereta mewah lewat atau sekedar mendinginkan mesin untuk bersiap berakselerasi lebih gesit lagi. Mata ini sungguh tak sabar melihat tulisan stasiun Cikampek, Karawang, Bekasi, Jatinegara, dan yang ditunggu seluruh penumpang, Stasiun Senen. Benar-benar tak sabar. Bekali-kali melihat keluar jendela masih belum muncul juga stasiun-stasiun itu. Sekitar jam setengah lima baru masuk karawang kalau tidak salah. Kaki ini sudah meronta-ronta ingin berpindah tempat, minimal sekedar melipat sebentar. Benar-benar 'menyenangkan'. Penantian yang lama ditambah jeritan punggung seakan-akan mau patah. Kami hanya bisa berdiri dengan dua kaki berdempetan seperti sikap sempurna dalam pelajaran baris-berbaris. Tidak bisa bergerak kemana-mana. Diam. Bersyukurlah bagi mereka yang mendapatkan tempat duduk.
Keheningan di kereta kadang dipecahkan oleh gelak tawa kumpulan orang yang suka bergurau. Terhiburlah kami. Tawapun tak segan-segan meluncur dari mulut kami menyambut umpan-umpan lucu dari mulut mereka. Sebuah simbiosis mutualisme yang bermutu.
Adzan shubuh berkumandang ketika kereta melintas rel di antara (kira-kira) Karawang dan Bekasi. Hati mulai sedikit lega. Kaki mulai bisa diajak kompromi lagi. Sebentar lagi sampai. Mungkin satu jam lagi. Begitulah kira-kira rayuan Hati kepada Kaki memberi semangat agar tetap bersedia menyokong tubuh ini. Memasuki kota memang kereta tidak berani berjalan cepat. Menghormati penduduk dan mengurangi resiko tabrakan mungkin alasannya. Terhibur rasanya hati ini.
Kepuasan usaha 'memecahkan rekor' ini berakhir di stasiun Pasar Senen, Jakarta, hari Senin (24/03) sekitar pukul enam pagi. Alhamdulillah. Senyum dan ucapan selamat menyambut keberhasilan kami (tentu saja yang berdiri, yang duduk tentu belum berhasil). Jabat tangan pun tak luput dari perhatian kami. Kepuasan ini seperti berhasilnya kami lolos seleksi menjadi astronot yang sangat ketat itu. Sayang tidak ada media massa yang meliput waktu itu. Hanya media publikasi ini yang mendokumentasikan menit-menit perjalanan 'memecahkan rekor' berdiri dari Semarang ke Jakarta. Alhamdulillah, mungkin itulah satu kalimat yang cocok untuk mengungkapkan rasa senang kami.
Sebuah perjalanan panjang, kurang lebih sepuluh jam, Semarang-Jakarta. Sebuah perjuangan yang panjang 10-1 (sepuluh minus satu) jam. Sebuah perjalanan dan perjuangan yang layak mendapatkan bonus naik kereta dari stasiun Pasar Senen ke Jakarta Kota dengan bebas memilih tempat duduk. Sebuah penghargaan yang tak ternilai harganya yang diberikan oleh PT KAI. Terima kasih kami haturkan kepada mereka.
Selamat bagi teman-teman seperjuangan-semalaman-sekereta yang telah berhasil 'memecahkan rekor'. Semoga lain kali diliput media. Termasuh bagi Dimas, Mizan, Hafizh, Azhar, dan Rima yang telah ikut berjuang 'memecahkan rekor' dan siap dengan kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Semoga perjalanan kita mendapat berkah dan diridhoi Allah subhanahu wa ta'ala serta dapat menjadi pelajaran bagi semua.
Jangan lupa sertifikat penghargaan dapat diambil di Panitia :)
Jangan kapok mencoba sesuatu yang baru.
--salam--
foto menyusul :p
trims to : http://lanunlaut.blogspot.com/2007/02/perjalanan-panjang.html atas fotonya.
Lanjut...
Perjalanan memecahkan rekor (1)
Penatnya....
Pfuuyy, helaan nafas lega berhembus dari hidung dan mulut. Jakarta, kami datang senin ini (24/03).
Benar, tidak salah lagi. Benar-benar lega dan puas setelah berhasil 'memecahkan rekor' berdiri selama sembilan (9) jam dalam perjalanan Semarang-Jakarta. Lebih tepatnya dari Stasiun Besar Poncol Semarang ke Stasiun Pasar Senen Jakarta. Perjalanan yg seru, melelahkan, menghibur, tidak terlupakan. It's amazing. Mungkin bagi yang pertama kali melakukan perjalanan ini akan terasa kaget dan sangat melelahkan.
Berawal dari keengganan langsung pulang dari resepsi pernikahan seorang teman di Kudus, kami berlima memutuskan untuk terlebih dahulu jalan-jalan. Iya lah, masak jauh-jauh dari Bogor ke Kudus cuma buat menghadiri pernikahan doang. Rugi kan? Ga juga sih, karena makanannya enak2 plus foto berkali-kali :). Tapi kurang puas aja. Akhirnya setelah melalui perundingan yang cukup alot, kami memutuskan untuk tetap jalan-jalan tapi bukan di Kudus, melainkan di Semarang. I think it's not more than just refreshing.
Nah, dari ide jalan-jalan inilah (mungkin) 'pemecahan rekor' ini berawal, meskipun secara tidak sengaja. Entah, karena capeknya, sepulang jalan-jalan, kami (2 dari 4 orang yg ikut jalan-jalan) langsung aja ndelosor (ambil posisi tidur). Nah beneran, tidak sampai satu menit saya langsung jalan-jalan lagi. Akhirnya rencana untuk beli tiket kereta api ke Jakarta terpaksa dibatalkan. Sebenarnya ada beberapa alasan batalnya beli tiket ini : 1) Capek, pingin tidur; 2) gak ada motor; 3) gak tau jalan ke stasiun; 4) nonton siaran langsung F1 di GlobalTV (seru!!).
Sore hari, ba'da ashar, kami memutuskan untuk mulai melakukan perjalanan pulang. Berangkat dari kantor PW Muhammadiyah Jawa Tengah, kemudian naik angkot ke Stasiun Poncol. Sampai di stasiun, langkah langsung tertuju ke loket pembelian tiket. Melihat tulisan di kaca loket, raut muka kami langsung berubah. TEMPAT DUDUK HABIS. Begitulah inti tulisan itu. Sedih, tegang, khawatir, tapi untung masih bisa senyum :) Mungkin kalau paginya kami bisa menyempatkan waktu untuk beli tiket, tidak akan begini raut mukanya. Jangan dikira kami naik kereta kelas Bisnis/Eksekutif. Tapi EKONOMI, kereta kelas tiga yang harus mengalah ketika ada kereta Bisnis/Eksekutif yang nyuwun sewu lewat.
Kereta berangkat pukul 19.00 waktu stasiun Poncol. Melihat orang yang antri sholat aja uda ketahuan, penumpang kreta Tawang Jaya (nama kretanya) pasti rame, bejubel. Betul saja, untuk naik saja kami bingung mau lewat mana. Semua pintu penuh dengan penumpang. Dengan usaha dan upaya, masuk juga akhirnya. Di dalam, keadaan lebih seram lagi tiap penumpang yg berdiri hanya mendapat jatah 20x20 cm untuk berdiri. Bayangkan!! Keadaan ini hampir merata di seluruh gerbong. WaW. Subhanallah. Keadaan ini bertambah parah dengan keterlambatan pemberangkatan kereta selama 30 menit serta kipas dan lampu mati. Untungnya, beberapa penumpang di sekitar kami punya selera humor. Terbitlah senyum-senyum gembira hingga akhirnya berbuah ngakak. :))
Selama perjalanan, dialog dengan penumpang lain jangan dilewatkan. Inilah yang dapat mengurangi kejenuhan dan kelelahan berdiri. Minimal nanya, 'mau kemana, Mas?'. 'Ke Jakarta, Neng.'. 'Ooo, sama dong. Kerja atau kuliah atau...'. dan belanjut hingga ke percakapan lainnya. Siapa tau jodoh ketemu di kereta :)
Perjalanan ini tidaklah ringan. Kadang kami dihadapkan dengan keegoisan penumpang yang mendapatkan tempat duduk (atau kami yang egois ya?). Keengganan mereka untuk berbagi tempat duduk adalah hak mereka karena mereka telah membeli tiket. Dan (mungkin) kebodohan kami karena sudah tau tiket tempat duduk habis, tapi masih dibeli juga. Ya sudahlah. Mental sosial kita diuji disaat seperti ini. Suatu hal yang mungkin tidak akan didapatkan jika naik kereta kelas Bisni atau Eksekutif. Inilah bijaknya rakyat yang konon katanya orang-orang bodoh, tidak berpendidikan, miskin, dll.
Perjalanan ini berat, Bung. Tidak mudah menanamkan presepsi di otak bahwa delapan jam itu singkat, Semarang-Jakarta itu dekat, dan berdiri serta bercanda itu nikmat. Banyak faktor-faktor lain yang mempengaruhi kerasnya otak menerima persepsi ini, kurangnya suplai oksigen mungkin salah satunya. Bahkan untuk sekedar tersenyumpun sulit. Yang ada malah :(.
[bersambung..]
trims to : http://i149.photobucket.com/albums/s74/arifperdana/jalan.jpg atas fotonya
Lanjut...
Pfuuyy, helaan nafas lega berhembus dari hidung dan mulut. Jakarta, kami datang senin ini (24/03).
Benar, tidak salah lagi. Benar-benar lega dan puas setelah berhasil 'memecahkan rekor' berdiri selama sembilan (9) jam dalam perjalanan Semarang-Jakarta. Lebih tepatnya dari Stasiun Besar Poncol Semarang ke Stasiun Pasar Senen Jakarta. Perjalanan yg seru, melelahkan, menghibur, tidak terlupakan. It's amazing. Mungkin bagi yang pertama kali melakukan perjalanan ini akan terasa kaget dan sangat melelahkan.Berawal dari keengganan langsung pulang dari resepsi pernikahan seorang teman di Kudus, kami berlima memutuskan untuk terlebih dahulu jalan-jalan. Iya lah, masak jauh-jauh dari Bogor ke Kudus cuma buat menghadiri pernikahan doang. Rugi kan? Ga juga sih, karena makanannya enak2 plus foto berkali-kali :). Tapi kurang puas aja. Akhirnya setelah melalui perundingan yang cukup alot, kami memutuskan untuk tetap jalan-jalan tapi bukan di Kudus, melainkan di Semarang. I think it's not more than just refreshing.
Nah, dari ide jalan-jalan inilah (mungkin) 'pemecahan rekor' ini berawal, meskipun secara tidak sengaja. Entah, karena capeknya, sepulang jalan-jalan, kami (2 dari 4 orang yg ikut jalan-jalan) langsung aja ndelosor (ambil posisi tidur). Nah beneran, tidak sampai satu menit saya langsung jalan-jalan lagi. Akhirnya rencana untuk beli tiket kereta api ke Jakarta terpaksa dibatalkan. Sebenarnya ada beberapa alasan batalnya beli tiket ini : 1) Capek, pingin tidur; 2) gak ada motor; 3) gak tau jalan ke stasiun; 4) nonton siaran langsung F1 di GlobalTV (seru!!).
Sore hari, ba'da ashar, kami memutuskan untuk mulai melakukan perjalanan pulang. Berangkat dari kantor PW Muhammadiyah Jawa Tengah, kemudian naik angkot ke Stasiun Poncol. Sampai di stasiun, langkah langsung tertuju ke loket pembelian tiket. Melihat tulisan di kaca loket, raut muka kami langsung berubah. TEMPAT DUDUK HABIS. Begitulah inti tulisan itu. Sedih, tegang, khawatir, tapi untung masih bisa senyum :) Mungkin kalau paginya kami bisa menyempatkan waktu untuk beli tiket, tidak akan begini raut mukanya. Jangan dikira kami naik kereta kelas Bisnis/Eksekutif. Tapi EKONOMI, kereta kelas tiga yang harus mengalah ketika ada kereta Bisnis/Eksekutif yang nyuwun sewu lewat.
Kereta berangkat pukul 19.00 waktu stasiun Poncol. Melihat orang yang antri sholat aja uda ketahuan, penumpang kreta Tawang Jaya (nama kretanya) pasti rame, bejubel. Betul saja, untuk naik saja kami bingung mau lewat mana. Semua pintu penuh dengan penumpang. Dengan usaha dan upaya, masuk juga akhirnya. Di dalam, keadaan lebih seram lagi tiap penumpang yg berdiri hanya mendapat jatah 20x20 cm untuk berdiri. Bayangkan!! Keadaan ini hampir merata di seluruh gerbong. WaW. Subhanallah. Keadaan ini bertambah parah dengan keterlambatan pemberangkatan kereta selama 30 menit serta kipas dan lampu mati. Untungnya, beberapa penumpang di sekitar kami punya selera humor. Terbitlah senyum-senyum gembira hingga akhirnya berbuah ngakak. :))
Selama perjalanan, dialog dengan penumpang lain jangan dilewatkan. Inilah yang dapat mengurangi kejenuhan dan kelelahan berdiri. Minimal nanya, 'mau kemana, Mas?'. 'Ke Jakarta, Neng.'. 'Ooo, sama dong. Kerja atau kuliah atau...'. dan belanjut hingga ke percakapan lainnya. Siapa tau jodoh ketemu di kereta :)
Perjalanan ini tidaklah ringan. Kadang kami dihadapkan dengan keegoisan penumpang yang mendapatkan tempat duduk (atau kami yang egois ya?). Keengganan mereka untuk berbagi tempat duduk adalah hak mereka karena mereka telah membeli tiket. Dan (mungkin) kebodohan kami karena sudah tau tiket tempat duduk habis, tapi masih dibeli juga. Ya sudahlah. Mental sosial kita diuji disaat seperti ini. Suatu hal yang mungkin tidak akan didapatkan jika naik kereta kelas Bisni atau Eksekutif. Inilah bijaknya rakyat yang konon katanya orang-orang bodoh, tidak berpendidikan, miskin, dll.
Perjalanan ini berat, Bung. Tidak mudah menanamkan presepsi di otak bahwa delapan jam itu singkat, Semarang-Jakarta itu dekat, dan berdiri serta bercanda itu nikmat. Banyak faktor-faktor lain yang mempengaruhi kerasnya otak menerima persepsi ini, kurangnya suplai oksigen mungkin salah satunya. Bahkan untuk sekedar tersenyumpun sulit. Yang ada malah :(.
[bersambung..]
trims to : http://i149.photobucket.com/albums/s74/arifperdana/jalan.jpg atas fotonya
Lanjut...
24 Maret 2008
Bukti Adanya Istana di Bawah Laut
Subhanallah, Saya terkejut bukan main.
Anda percaya bahwa di dalam Laut terdapat kerajaan?
Jika anda tidak percaya, silakan lihat bukti-bukti berupa foto yang saya potret sendiri. Bukti-bukti ini saya temukan secara tidak sengaja ketika jalan-jalan di sebuah pantai di Jepara selepas damjateng2008.
(foto 1) Reruntuhan tembok istana yang terbawa ombak hingga terdampar di pantai.
(foto 2) Salah satu bongkahan kayu (saya duga sebagai bambu laut) yang menjadi korban illegal loging bawah laut. Akibat illegal loging ini adalah terjadinya banjir yang merobohkan beberapa istana bawah laut (foto 1)
(foto 3) Hutan bawah laut telah benar-benar digunduli. Jangan kaget jika sewaktu-waktu terjadi banjir besar yang bernama tsunami.
(foto 4) Gandum laut, salah satu komoditas dan makanan pokok penduduk bawah laut. Mungkin ini terbawa arus akibat banjir besar yang menimpa kerajaan bawah laut :(
He 3x.. Selamat menikmati.
Just Kidding :))
Lanjut...
Anda percaya bahwa di dalam Laut terdapat kerajaan?
Jika anda tidak percaya, silakan lihat bukti-bukti berupa foto yang saya potret sendiri. Bukti-bukti ini saya temukan secara tidak sengaja ketika jalan-jalan di sebuah pantai di Jepara selepas damjateng2008.
(foto 1) Reruntuhan tembok istana yang terbawa ombak hingga terdampar di pantai.
(foto 2) Salah satu bongkahan kayu (saya duga sebagai bambu laut) yang menjadi korban illegal loging bawah laut. Akibat illegal loging ini adalah terjadinya banjir yang merobohkan beberapa istana bawah laut (foto 1)
(foto 3) Hutan bawah laut telah benar-benar digunduli. Jangan kaget jika sewaktu-waktu terjadi banjir besar yang bernama tsunami.
(foto 4) Gandum laut, salah satu komoditas dan makanan pokok penduduk bawah laut. Mungkin ini terbawa arus akibat banjir besar yang menimpa kerajaan bawah laut :( He 3x.. Selamat menikmati.
Just Kidding :))
Lanjut...
04 November 2007
Apa itu sego roomo??
Membaca berita di Jawa Pos (31/10/2007) tentang reuni warga Gresik plus pesta jajanan, ada yang menarik. Berikut kutipan beritanya :
---------------------------------------
Terkumpul 57 Jenis Jajanan dan Masakan
Sejumlah pengusaha sukses asal Gresik di Jakarta yang setiap Lebaran pulang kampung gelisah karena tidak lagi menemukan makanan atau penganan khas Gresik masa lalu. Sebab, sebagian besar sudah terpinggirkan menu-menu modern. Tampaknya, kegelisahan mereka ditangkap sejumlah budayawan Gresik yang kemarin mengadakan festival makanan asli Gresik di kampung Kemasan.
Umar Zainuddin atau akrab dipanggil Cak Nud, budayawan setempat, memprakarsai acara yang untuk pertama diadakan di Gresik tersebut. Meski persiapannya cukup pendek, ternyata panitia masih bisa mengumpulkan sedikitnya 57 jajanan dan masakan khas Gresik untuk ditampilkan dalam acara yang dilangsungkan Rabu (17/10), mulai pukul 18.00-22.00 tersebut. (....dst).
------------------------------------------------
Berita selengkapnya dapat dibaca di sini.
Nama-nama makanan dan jajanan di berita tersebut mungkin beberapa masih asing di telinga kita (kita di sini berarti Anda semua termasuk saya). Alkisah, ada seorang pemuda aseli Gresik, sebut saja fulan. Mulai mbah buyut, mbah kakung, mbah uti, bapak, ibu, hingga ke anaknya (mungkin saja) adalah aseli orang Gresik. Suatu saat fulan berkunjung ke luar kota. Karena tidak ada teman atau saudara, ia bertekad untuk mengajak bicara siapapun yang mendekat kepadanya. Maka terjadilah percakapan singkat.
"Dari mana, Mas?" Si Fulan langsung tanggap kalau yang mengajaknya bicara menanyakan dari mana asalnya.
"Gresik, Mbak."
"Aseli Gresik?"
"Iya. Dari mbah buyut saya, sudah aseli wong ngGersik."
"Kalo Gresik itu, khasnya apa ya?"
"Ooooo..Pudak, Mbak." Sambil tersenyum lebar.
"Apa itu pudak?" Si mbak bingung (sambil ngerontokin kutu rambutnya), karena baru kali ini dia mendengar makanan yang bernama pudak.
"Pudak itu jajanan yang terbuat dari tepung beras, ditambah santan dan susu, serta bahan-bahan tambahan lainnya."
"Wah, enak dong. Kalau selain pudak, apa lagi, Mas?"
Fulan merenung agak lama. Kemudian
"Kayaknya cuma itu." Sambil merontokkan kutu rambutnya. Membalas serangan si Mbak tadi. :(
Kiranya cukup sampai di sini saja kisahnya. Karena hampir dipastikan Fulan malu setengah mati. Moso' arek ngGersik dak ngerti panganane dhewe. Apalagi yang nanya seorang cewek. Tidak usah dibayangkan mukanya.
Pernahkah pengalaman seperti yang dialami Fulan menimpa kita? Semoga saja ini tidak pernah terjadi. Identitas sebagai arek ngGersik yang seharusnya ia kenakan, malah tidak tahu. Ya. Beberapa teman yang pernah saya jumpai pun sempat mengalami hal yang sama. Bahkan saya sendiri. Apa kata dunia?
Seperti yang diberitakan Jawa Pos, makanan dan jajanan khas Gresik memang mulai hilang dari peredaran. Ketika kita jalan-jalan di alun-alun, misalnya, jarang lagi kita temui orang yang berjualan sego roomo. Yang ada malahan pop-ice. Di pasar Gresik pun mulai jarang ditemui. Ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan hal ini terjadi :
- Makanan seperti ini mungkin mulai naik pangkat menjadi makanan ekslusif.
- Atau yang lebih menyedihkan makanan itu sudah tergusur dari peredaran karena sudah tidak ada yang tahu resepnya.
- Meningkatnya peredaran makanan 'modern', seperti fried chicken.
- Masyarakat mulai berpikir tentang kandungan gizi dalam makanan yang 4 sehat 5 sempurna.
- dll (ada yg punya usul??)
Lantas, bagaimana dengan kita? Apakah kita masih peduli dengan bagian budaya Gresik yang satu ini? Jawabannya terserah Anda. Tapi yang harus selalu kita ingat, kita akan lebih malu lagi kalau nanti orang Serawak mematenkan sego roomo, orang Bangkok mematenkan otak-otak bandeng, dan orang Tokyo mematenkan ketupat ketheg. (next).
Lanjut...
---------------------------------------
Terkumpul 57 Jenis Jajanan dan Masakan
Sejumlah pengusaha sukses asal Gresik di Jakarta yang setiap Lebaran pulang kampung gelisah karena tidak lagi menemukan makanan atau penganan khas Gresik masa lalu. Sebab, sebagian besar sudah terpinggirkan menu-menu modern. Tampaknya, kegelisahan mereka ditangkap sejumlah budayawan Gresik yang kemarin mengadakan festival makanan asli Gresik di kampung Kemasan.
Umar Zainuddin atau akrab dipanggil Cak Nud, budayawan setempat, memprakarsai acara yang untuk pertama diadakan di Gresik tersebut. Meski persiapannya cukup pendek, ternyata panitia masih bisa mengumpulkan sedikitnya 57 jajanan dan masakan khas Gresik untuk ditampilkan dalam acara yang dilangsungkan Rabu (17/10), mulai pukul 18.00-22.00 tersebut. (....dst).
------------------------------------------------
Berita selengkapnya dapat dibaca di sini.
Nama-nama makanan dan jajanan di berita tersebut mungkin beberapa masih asing di telinga kita (kita di sini berarti Anda semua termasuk saya). Alkisah, ada seorang pemuda aseli Gresik, sebut saja fulan. Mulai mbah buyut, mbah kakung, mbah uti, bapak, ibu, hingga ke anaknya (mungkin saja) adalah aseli orang Gresik. Suatu saat fulan berkunjung ke luar kota. Karena tidak ada teman atau saudara, ia bertekad untuk mengajak bicara siapapun yang mendekat kepadanya. Maka terjadilah percakapan singkat.
"Dari mana, Mas?" Si Fulan langsung tanggap kalau yang mengajaknya bicara menanyakan dari mana asalnya.
"Gresik, Mbak."
"Aseli Gresik?"
"Iya. Dari mbah buyut saya, sudah aseli wong ngGersik."
"Kalo Gresik itu, khasnya apa ya?"
"Ooooo..Pudak, Mbak." Sambil tersenyum lebar.
"Apa itu pudak?" Si mbak bingung (sambil ngerontokin kutu rambutnya), karena baru kali ini dia mendengar makanan yang bernama pudak.
"Pudak itu jajanan yang terbuat dari tepung beras, ditambah santan dan susu, serta bahan-bahan tambahan lainnya."
"Wah, enak dong. Kalau selain pudak, apa lagi, Mas?"
Fulan merenung agak lama. Kemudian
"Kayaknya cuma itu." Sambil merontokkan kutu rambutnya. Membalas serangan si Mbak tadi. :(
Kiranya cukup sampai di sini saja kisahnya. Karena hampir dipastikan Fulan malu setengah mati. Moso' arek ngGersik dak ngerti panganane dhewe. Apalagi yang nanya seorang cewek. Tidak usah dibayangkan mukanya.
Pernahkah pengalaman seperti yang dialami Fulan menimpa kita? Semoga saja ini tidak pernah terjadi. Identitas sebagai arek ngGersik yang seharusnya ia kenakan, malah tidak tahu. Ya. Beberapa teman yang pernah saya jumpai pun sempat mengalami hal yang sama. Bahkan saya sendiri. Apa kata dunia?
Seperti yang diberitakan Jawa Pos, makanan dan jajanan khas Gresik memang mulai hilang dari peredaran. Ketika kita jalan-jalan di alun-alun, misalnya, jarang lagi kita temui orang yang berjualan sego roomo. Yang ada malahan pop-ice. Di pasar Gresik pun mulai jarang ditemui. Ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan hal ini terjadi :
- Makanan seperti ini mungkin mulai naik pangkat menjadi makanan ekslusif.
- Atau yang lebih menyedihkan makanan itu sudah tergusur dari peredaran karena sudah tidak ada yang tahu resepnya.
- Meningkatnya peredaran makanan 'modern', seperti fried chicken.
- Masyarakat mulai berpikir tentang kandungan gizi dalam makanan yang 4 sehat 5 sempurna.
- dll (ada yg punya usul??)
Lantas, bagaimana dengan kita? Apakah kita masih peduli dengan bagian budaya Gresik yang satu ini? Jawabannya terserah Anda. Tapi yang harus selalu kita ingat, kita akan lebih malu lagi kalau nanti orang Serawak mematenkan sego roomo, orang Bangkok mematenkan otak-otak bandeng, dan orang Tokyo mematenkan ketupat ketheg. (next).
Lanjut...
24 Oktober 2007
Taqabbalallahu minna wa minkum
Lanjut...
22 September 2007
smam1gresik.com was suspended
Kaget pas buka situs almamater kebanggaan 'www.smam1gresik.com'. Kenapa?? Bukan karena ada berita menghebohkan, bukan pula karena wajah yang lebih cakep. Tapi di situ tertera tulisan dengan jelas, sejelas-jelasnya. Apa itu...
Penasaran, kemudian ku coba buka 'alumni.smam1gresik.com'. Tulisan yang sama masih nampang juga di sana. Kayaknya ada masalah yang harus segera diselesaikan supaya wajah SMAM 1 Gresik nongol terus di internet.
Kok bisa begitu ya?? Jangan tanya saya. Saya juga tidak tahu-menahu. Saya hanya salah seorang user+member di sana. Tidak mengetahui urusan kepemilikan domain dan ruang hosting. Apakah belum bayar, atau belum diperpanjang, atau mengandung konten yang melanggar, atau ... Ah, saya ini terlalu ber-su'udzan. Ingat, Bang, lagi puasa.
Tapi salah seorang admin sudah saya kontak (sms ,red). Semoga tindakan cepat dapat segera dilaksanakan agar wajah almamater ku bisa online lagi. Tapi yang lebih penting lagi, seluruh datanya semoga tidak hilang. Aamiin.
Selamat berjuang Pak Admin dan Pak-pak Tim ICT. Semoga sukses.
Known suspended : 22 sept 2007 | 22:50 WIB | @ azoebs linux corner
Lanjut...
This Account Has Been Suspended
Penasaran, kemudian ku coba buka 'alumni.smam1gresik.com'. Tulisan yang sama masih nampang juga di sana. Kayaknya ada masalah yang harus segera diselesaikan supaya wajah SMAM 1 Gresik nongol terus di internet.Kok bisa begitu ya?? Jangan tanya saya. Saya juga tidak tahu-menahu. Saya hanya salah seorang user+member di sana. Tidak mengetahui urusan kepemilikan domain dan ruang hosting. Apakah belum bayar, atau belum diperpanjang, atau mengandung konten yang melanggar, atau ... Ah, saya ini terlalu ber-su'udzan. Ingat, Bang, lagi puasa.
Tapi salah seorang admin sudah saya kontak (sms ,red). Semoga tindakan cepat dapat segera dilaksanakan agar wajah almamater ku bisa online lagi. Tapi yang lebih penting lagi, seluruh datanya semoga tidak hilang. Aamiin.
Selamat berjuang Pak Admin dan Pak-pak Tim ICT. Semoga sukses.
Known suspended : 22 sept 2007 | 22:50 WIB | @ azoebs linux corner
Lanjut...
27 Mei 2006
Info Kesehatan (sekedar berbagi sehat)

Sering kali kita jumpai dan mungkin juga sering kita alami kemasan makanan yang menarik dilihat sehingga mampu menggerakkan hati untuk membelinya. Namun apakah kita sadar bahwa kemasan tersebut mengandung bahan-bahan yang sebenarnya dapat dikategorikan dalam tingkat membahayakan kesehatan manusia. Kemasan makanan yang tiap hari kita konsumsi memang tidak dengan mudah dapat membahayakan kesehatan, namun jika pemakaiannya dilakukan berulang-ulang dan terus-menerus, tentulah dampaknya akan sangat terasa begi kesehatan. Mungkin baru akan menunjukkan dampaknya secara nyata setelah 5-10 tahun.
Namun kemasan bukanlah biang keladi utama dan satu-satunya bagi penyebab terganggunya kesehatan. Pola makan dan jenis makanan pun ikut andil dalam mempengaruhi kesahatan konsumen. Berikut ini ada beberapa poin yang dapat dijadikan WARNING letters bagi konsumen yang doyan makan, namun tidak ada salahnya juga bagi yang seleramakannya biasa saja.
1. BOTOL PLASTIK
Mungkin sebagian dari kita mempunyai kebiasaan memakai dan memakai ulang botol plastik (Aqua, VIT etc) dan menaruhnya di mobil atau dikantor.
Kebiasaan ini tidak baik, karena bahan plastic botol (disebut juga sebagai polyethylene terephthalate or PET) yang dipakai di botol2 ini, mengandung zat2 karsinogen (atau DEHA). Botol ini aman untuk dipakai 1-2 kali saja,jika anda ingin memakainya lebih lama, tidak boleh lebih dari seminggu, dan harus ditaruh di tempat yang jauh dari matahari.
Kebiasaan mencuci ulang dapat membuat lapisan plastik rusak dan zat
karsinogen itu bisa masuk ke air yang kita minum. Lebih baik membeli botol air yang memang untuk dipakai ber-ulang2, jangan memakai botol plastik.
2. PENGGEMAR SATE
Kalau Anda makan sate, jangan lupa makan timun setelahnya. Karena ketika kita makan sate sebetulnya ikut juga karbon dari hasil pembakaran arang yang dapat menyebabkan kanker.
Untuk itu kita punya obatnya yaitu timun yang disarankan untuk dimakan setelah makan sate. Karena sate mempunyai zat Karsinogen (penyebab kanker) tetapi timun ternyata punya anti Karsinogen.
Jadi jangan lupa makan timun setelah makan sate.
3. UDANG DAN VITAMIN C
Jangan makan udang setelah Anda makan Vitamin C. Karena ini akan menyebabkan keracunan dari racun Arsenik (As) yang merupakan proses reaksi dari Udang dan Vitamin C di dalam tubuh dan berakibat keracunan yang fatal dalam hitungan jam.
4. MIE INSTAN
Para penggemar Mi Instan, pastikan Anda punya selang waktu paling tidak 3 (tiga) hari setelah Anda mengkonsumsi Mi Instan, jika Anda akan mengkonsumsinya lagi. Dari Informasi kedokteran, ternyata tedapat lilin yang melapisi mi instan.
Itu sebabnya mengapa Mi Instan tidak lengket satu sama lainnya ketika dimasak.Konsumsi Mie Instan setiap hari akan meningkatkan kemungkinan seseorang terjangkiti kanker. Seseorang, karena begitu sibuknya dalam berkarir sehingga tidak punya waktu lagi untuk memasak, sehingga diputuskannya untuk mengkonsumsi Mi Instan setiap hari. Akhirnya dia menderita kanker.
Dokternya mengatakan bahwa hal ini disebabkan karena adanya lilin dalam Mi Instan tersebut. Dokter tersebut mengatakan bahwa tubuh kita memerlukan waktu lebih dari 2 (dua) hari untuk membersihkan lilin tersebut.
Ada seorang pramugari SIA (Singapore Air) yang setelah berhenti dan kemudian menjadi seorang ibu rumah tangga, tidak memasak tetapi hampir selalu mengkonsumsi Mie Instan setiap kali dia makan. Kemudian akhirnya menderita kanker dan meninggal karenanya.
Jika kita perhatikan Mi China yang berwarna kuning yang biasa ditemukan di pasar,dari hasil pengamatan, mi yang belum dimasak tersebut akan terlihat seperti berminyak. Lapisan minyak ini akan menghindari lengketnya mi tersebut satu dengan lainnya.
Mi Wonton yang masih mentah biasanya ditaburkan tepung agar terhindar dari lengket. Ketika tukang masak akan memasak mi, dia memasaknya pertama-tama dalam air panas, kemudian dibilas/ditiriskan dengan air dingin sebelum dimasak dengan air panas lagi. Memasak dan meniriskan dengan cara ini akan dapat menghindari lengketnya mi tersebut satu sama lainnya. Tukang masak memberikan minyak dan saos pada mi tersebut agar tidak menjadi lengket ketika akan dikonsumsi secara kering (tanpa kuah).
Aturan masak dalam membuat Spaghetti (Mi Italy), akan dibutuhkan minyak dan mentega yang ditambahkan terlebih dahulu pada air rebusan Spaghetti untuk menghindari lengketnya pasta tersebut.
5. BAHAYA DIBALIK KEMASAN MAKANAN
Kemasan makanan merupakan bagian dari makanan yang sehari-hari kita konsumsi. Bagi sebagian besar orang, kemasan makanan hanya sekadar bungkus makanan dan cenderung dianggap sebagai "pelindung" makanan.
Sebetulnya tidak tepat begitu, tergantung jenis bahan kemasan. Sebaiknya mulai sekarang Anda cermat memilik kemasan makanan.
Kemasan pada makanan mempunyai fungsi kesehatan, pengawetan, kemudahan, penyeragaman, promosi dan informasi. Ada begitu banyak bahan yang digunakan sebagai pengemas primer pada makanan, yaitu kemasan yang bersentuhan langsung dengan makanan. Tetapi tidak semua bahan ini aman bagi makanan yang dikemasnya.
Inilah ranking teratas bahan kemasan makanan yang perlu anda waspadai :
A. KERTAS
Beberapa kertas kemasan dan non-kemasan (kertas Koran dan majalah) yang sering digunakan untuk membungkus makanan, terdeteksi mengandung timbal (Pb) melebihi batas yang ditentukan. Di dalam tubuh manusia, timbal masuk melalui saluran pernapasan atau pencernaan menuju sistem peredaran darah dan kemudian menyebar ke berbagai jaringan lain seperti ginjal, hati, otak, saraf dan tulang.
Keracunan timbal pada orang dewasa ditandai dengan gejala 3 P, yaitu; pallor (pucat), pain (sakit) & paralysis (kelumpuhan). Keracunan yang terjadi pun bisa bersifat kronis dan akut. Untuk terhindar dari makanan yang terkontaminasilogam berat timbal, memang susah-susah gampang.
Banyak makanan jajanan seperti pisang goreng, tahu goreng dan tempe goreng yang dibungkus dengan koran karena pengetahuan yang kurang dari si penjual. Padahal bahan yang panas dan berlemak mempermudah berpindahnya timbal makanan tsb. Sebagai usaha pencegahan, taruhlah makanan jajanan tersebut di atas piring.
B. STYROFOAM
Bahan pengemas styrofoam atau polystyrene telah menjadi salah satu pilihan yang paling populer dalam bisnis pangan. Tetapi, riset terkini membuktikan bahwa styrofoam diragukan keamanannya.
Styrofoam yang dibuat dari kopolimer styren ini menjadi pilihan bisnis
pangan karena mampu mencegah kebocoran dan tetap mempertahankan bentuknya saat dipegang. Selain itu, bahan tersebut juga mampu mempertahankan panas dan dingin tetapi tetap nyaman dipegang, mempertahankan kesegaran dan keutuhan bahan yang dikemas, biaya murah, lebih aman, serta ringan.
Pada Juli 2001, Divisi Keamanan Pangan Pemerintah Jepang mengungkapkan bahwa residu styrofoam dalam makanan sangat berbahaya. Residu itu dapat menyebabkan endocrine disrupter (EDC), yaitu suatu penyakit yang terjadi akibat adanya gangguan pada sistem endokrinologi dan reproduksi manusia akibat bahan kimia karsinogen dalam makanan.
Lanjut...
Jalan dan trotoar (1)

Kadang saya herang melihat apa yang terjadi di sekitar habitat hidup saya. Ketika keluar dari kos-kosan suatu pemandangan risih yang selalu terlihat, terutama pada malam hari. Bukan karena pemandangan itu "aneh" seperti yang sekarang terus marak di TiPi, tentang pornografi atau pornoaksi. Bukan juga pemandangan tentang suatu lukisan yang aneh yang tidak dapat diterjemahkan oleh orang awam semacam saya. Tetapi hanyalah pemandangan tentang bagaimana manusia berjuang untuk mempertahankan hidupnya.
Terus terang saja, saya yang saat ini kos (lebih tepatnya ngontrak rumah bareng temen-temen) ketika malam hari selalu disuguhi dengan ketidakadilan akan hak-hak yang telah diberikan apakah itu oleh masyarakat atau oleh pemerintah itu sendiri. Hak yang diberikan kepada masyarakat telah diingkari oleh masyarakat sendiri. Entah itu masyarakat dalam konteks manusianya yang sama atau manusianya yang berbeda. Namun kecenderungannya nampaknya lebih kepada kelompok manusia yang berbeda.
Ya, yang terjadi adalah pengambilan hak manusia yang selayaknya mendapatkan jatah untuk berjalan di atas trotoar oleh pedagang kaki lima. Mungkin hal ini masih bisa dimaklumi jika yang berjualan hanyalah satu dua orang. Namun yang terjadi adalah pedagang kaki lima yang semuanya berjualan diatas trotoar sepanjang jalan Babakan Raya. Tidak itu saja, pengambilan hak secara tidak langsung dilakukan juga oleh para pemilik kios makanan. Panas yang ditimbulkan dari kompor mereka turut membuat malas bagi pada pejalan kaki untuk memanfaatkan trotoar sebagai tempat jalan mereka. Nampaknya tujuan dari pembangnunan trotoar perlu dikaji ulang lagi, apakah memang diperuntukkan bagi pejalan kaki ataukah bagi para pedangan kaki lima.
Beberapa contoh lain yang juga masih berkutat dalam lingkup pedagang kaki lima dan kios di Bara adalah perilaku yang kurang terpuji yang memang seharusnya tidak mereka lakukan, yakni pembuangan sampah secara sembarangan, terutama sampah organik, misal sisa makanan, minuman, de el el. Hal ini menambah kotor lingkungan disekitarnya. Apalagi jika kita sudah berbicara masalah selokan yang berada di bawah atau di depan, tempat jualan mereka. Selokan yang sedianya dibangun untuk melancarkan sanitasi malah berubah menjadi tempat sampah yang seakan-akan mempunyai ban berjalan yang dapat membawa sampah diatasnya untuk dipindahkan ke tempat yang lain (semoga ini bisa menjadi inspirasi untuk membuat tempat sampah dengan ban berjalan yang dapat mengumpulkan sampat dari berbagai penjuru). Hal ini seharusnya menjadi perhatian tersendiri bagi pemerintah desa Babakan untuk mengatur meraka agar lebih tertib dalam berdagang, dalam memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan (environmental impact) maupun terhadap manusianya (social impact) (atau kalau perlu harus mempunyai ISO 14000).

Lanjut...
Langganan:
Postingan (Atom)






