Tampilkan postingan dengan label fren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fren. Tampilkan semua postingan

16 Juli 2009

Matur Suwun Yo..

Ucapan ini seharusnya ditulis/ucapkan hampir sebulan yang lalu. Tapi tak apalah ditulis sekarang, mumpung ingat dari pada enggak sama sekali :)

Trims kepada kawan-kawan yang telah mendoakan pada wisudaku kemarin 17 Juni 2009. Yang lewat sms mohon maaf jika ga dibalas. Ga sempat balas semua (sebagian besar). Diantaranya :
Khusnul, Mizan, mbak Nia, 'soulma', Gangga, Dodi, Yuris, Iza, Hari, Hafizh, Nandya, Mahardi, Yunita, HIMALOGIN, Reta, Rima, mas Tarkudi, mas Supre, mas Taufik, mas Fikri, seluruh teman-teman di TIN, FATETA, IPB, dan IMM. Juga teman-teman yang nge-sms tanpa nama (maaf, nomer anda belum tercantum di phonebook :) ). he..he..
Siapapun kalian, I respect of you

Semoga Allah membalas kalian dengan balasan yang lebih baik. Yang sedang studi, semoga dimudahkan studinya, Yang lagi penelitian, semoga cepat selesai dan bermanfaat. Yang sedang kerja, semoga dilancarkan pekerjaannya. Yang sedang mencari kerja, semoga cepat dapat kerja. Yang sedang membangun usaha, semoga cepat berdiri usahanya. Yang mau nikah, semoga dilancarkan dan dijadikan keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Amin.

You're the best, frens.


Lanjut...

25 Maret 2008

Perjalanan memecahkan rekor (2-Habis)

Penatnya....
Pfuuyy, helaan nafas lega berhembus dari hidung dan mulut. Jakarta, kami datang senin ini (24/03).

----lanjutan sebelumnya----
Stasiun Weleri yang ditunggu datang juga. Di stasiun ini hampir dipastikan penumpangnya bertambah. Benar. Keadaan semakin seru. Aksi langkah-melangkahi jasad manusia menjadi biasa di sini. Kereta berangkat lagi. Stasiun Batang muncul. Kemudian disusul Pekalongan. Di stasiun Pekalongan ini, gerbong kami kedatangan tamu mahasiswa pecinta alam (mapala) yang terlihat dari pakaian dan tas carrier yang mereka gunakan. Ternyata melewati jalan datar dengan kemiringan NOL derajat di dalam gerbong itu tak semudah mendaki Gunung dengan kemiringan 45 derajat. Begitulah mungkin salah satu perkataan hati mereka. Intinya bertambahlah sesak gerbongku tercinta ini.

Stasiun Brebes dan Tegal sudah terlewati. Tapi empat orang dari kami masih berdiri juga, belum duduk sama sekali. Lha yang satu lagi udah dapat tempat duduk? Sudah, karena dia cewek, kami usahakan kepada penumpang yang punya kursi agar diizinkan numpang duduk. Boleh juga akhirnya (berterimakasihlah kepada mereka). Yang cowok masih bertahan dengan posisinya masing-masing. Jadi laki-laki itu jangan manja. Selepas Tegal penumpang berdiri lain yang sudah merasakan duduk bergantian mengizinkan penumpang yang belum merasakan duduk untuk duduk. Bukan duduk di kursi tentunya, tetapi duduk di lantai kereta. Beruntung bagi mereka yang bisa meluruskan kaki, bagi yang tidak, meletakkan pantatpun wajib hukumnya mengucapkan hamdalah. Meskipun cuma 1-2 menit.

Saya sendiri baru bisa merasakan nikmat Tuhan yang berupa kemampuan duduk setelah sampai di stasiun Cirebon, sekitar pukul 01.30 dini hari. Kalau dihitung, dari Semarang, sekitar 7 jam berdiri. Subhanallah. Mampu juga saya ternyata. Itu belum seberapa, penumpang lain ada yang belum merasakan duduk sama sekali. Tapi nikmat itu tidak mampu saya pertahankan dalam waktu yang lama. Setelah kurang lebih satu jam duduk, saya rasa alangkah nikmatnya berdiri sambil menikmati pemandangan gelap gulita dan menanti kedatangan stasiun demi stasiun. Sampai di stasiun Haurgeulis (kalau ga salah tulisannya), secara resmi saya berdiri lagi bersama kawan-kawan lain. Giliran Mizan (salah seorang dari kami) duduk. Dimas pun (salah satu dari kami juga) masih merasakan nikmatnya duduk. Entah dengan Hafizh (laki-laki terakhir dari kami).

Nikmat juga duduk ternyata, tapi lebih nikmat lagi berdiri. Bergelantungan dengan tali tas yang diikatkan pada batang-batang besi rak tempat tas. Tidur sambil berdiri. Belajar menenangkan pikiran sadar dan membawanya ke alam bawah sadar. Menanggalkan semua pikiran sedih. Mengendapkan kepenatan dan menciptakan kedamaian serta kenyamanan. Ok, Bung. Perjuangan 'memecahkan rekor' masih belum selesai. Kita masih sampai di Stasiun Haurgeulis.

Perjalanan melintasi Jawa Barat terasa lama sekali dibandingkan dengan Jawa Tengah. Sebentar-sebentar kereta berhenti, entah itu menunggu kereta mewah lewat atau sekedar mendinginkan mesin untuk bersiap berakselerasi lebih gesit lagi. Mata ini sungguh tak sabar melihat tulisan stasiun Cikampek, Karawang, Bekasi, Jatinegara, dan yang ditunggu seluruh penumpang, Stasiun Senen. Benar-benar tak sabar. Bekali-kali melihat keluar jendela masih belum muncul juga stasiun-stasiun itu. Sekitar jam setengah lima baru masuk karawang kalau tidak salah. Kaki ini sudah meronta-ronta ingin berpindah tempat, minimal sekedar melipat sebentar. Benar-benar 'menyenangkan'. Penantian yang lama ditambah jeritan punggung seakan-akan mau patah. Kami hanya bisa berdiri dengan dua kaki berdempetan seperti sikap sempurna dalam pelajaran baris-berbaris. Tidak bisa bergerak kemana-mana. Diam. Bersyukurlah bagi mereka yang mendapatkan tempat duduk.

Keheningan di kereta kadang dipecahkan oleh gelak tawa kumpulan orang yang suka bergurau. Terhiburlah kami. Tawapun tak segan-segan meluncur dari mulut kami menyambut umpan-umpan lucu dari mulut mereka. Sebuah simbiosis mutualisme yang bermutu.

Adzan shubuh berkumandang ketika kereta melintas rel di antara (kira-kira) Karawang dan Bekasi. Hati mulai sedikit lega. Kaki mulai bisa diajak kompromi lagi. Sebentar lagi sampai. Mungkin satu jam lagi. Begitulah kira-kira rayuan Hati kepada Kaki memberi semangat agar tetap bersedia menyokong tubuh ini. Memasuki kota memang kereta tidak berani berjalan cepat. Menghormati penduduk dan mengurangi resiko tabrakan mungkin alasannya. Terhibur rasanya hati ini.

Kepuasan usaha 'memecahkan rekor' ini berakhir di stasiun Pasar Senen, Jakarta, hari Senin (24/03) sekitar pukul enam pagi. Alhamdulillah. Senyum dan ucapan selamat menyambut keberhasilan kami (tentu saja yang berdiri, yang duduk tentu belum berhasil). Jabat tangan pun tak luput dari perhatian kami. Kepuasan ini seperti berhasilnya kami lolos seleksi menjadi astronot yang sangat ketat itu. Sayang tidak ada media massa yang meliput waktu itu. Hanya media publikasi ini yang mendokumentasikan menit-menit perjalanan 'memecahkan rekor' berdiri dari Semarang ke Jakarta. Alhamdulillah, mungkin itulah satu kalimat yang cocok untuk mengungkapkan rasa senang kami.

Sebuah perjalanan panjang, kurang lebih sepuluh jam, Semarang-Jakarta. Sebuah perjuangan yang panjang 10-1 (sepuluh minus satu) jam. Sebuah perjalanan dan perjuangan yang layak mendapatkan bonus naik kereta dari stasiun Pasar Senen ke Jakarta Kota dengan bebas memilih tempat duduk. Sebuah penghargaan yang tak ternilai harganya yang diberikan oleh PT KAI. Terima kasih kami haturkan kepada mereka.

Selamat bagi teman-teman seperjuangan-semalaman-sekereta yang telah berhasil 'memecahkan rekor'. Semoga lain kali diliput media. Termasuh bagi Dimas, Mizan, Hafizh, Azhar, dan Rima yang telah ikut berjuang 'memecahkan rekor' dan siap dengan kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Semoga perjalanan kita mendapat berkah dan diridhoi Allah subhanahu wa ta'ala serta dapat menjadi pelajaran bagi semua.

Jangan lupa sertifikat penghargaan dapat diambil di Panitia :)
Jangan kapok mencoba sesuatu yang baru.

--salam--
foto menyusul :p

trims to : http://lanunlaut.blogspot.com/2007/02/perjalanan-panjang.html atas fotonya.

Lanjut...

Perjalanan memecahkan rekor (1)

Penatnya....
Pfuuyy, helaan nafas lega berhembus dari hidung dan mulut. Jakarta, kami datang senin ini (24/03).

Benar, tidak salah lagi. Benar-benar lega dan puas setelah berhasil 'memecahkan rekor' berdiri selama sembilan (9) jam dalam perjalanan Semarang-Jakarta. Lebih tepatnya dari Stasiun Besar Poncol Semarang ke Stasiun Pasar Senen Jakarta. Perjalanan yg seru, melelahkan, menghibur, tidak terlupakan. It's amazing. Mungkin bagi yang pertama kali melakukan perjalanan ini akan terasa kaget dan sangat melelahkan.

Berawal dari keengganan langsung pulang dari resepsi pernikahan seorang teman di Kudus, kami berlima memutuskan untuk terlebih dahulu jalan-jalan. Iya lah, masak jauh-jauh dari Bogor ke Kudus cuma buat menghadiri pernikahan doang. Rugi kan? Ga juga sih, karena makanannya enak2 plus foto berkali-kali :). Tapi kurang puas aja. Akhirnya setelah melalui perundingan yang cukup alot, kami memutuskan untuk tetap jalan-jalan tapi bukan di Kudus, melainkan di Semarang. I think it's not more than just refreshing.

Nah, dari ide jalan-jalan inilah (mungkin) 'pemecahan rekor' ini berawal, meskipun secara tidak sengaja. Entah, karena capeknya, sepulang jalan-jalan, kami (2 dari 4 orang yg ikut jalan-jalan) langsung aja ndelosor (ambil posisi tidur). Nah beneran, tidak sampai satu menit saya langsung jalan-jalan lagi. Akhirnya rencana untuk beli tiket kereta api ke Jakarta terpaksa dibatalkan. Sebenarnya ada beberapa alasan batalnya beli tiket ini : 1) Capek, pingin tidur; 2) gak ada motor; 3) gak tau jalan ke stasiun; 4) nonton siaran langsung F1 di GlobalTV (seru!!).

Sore hari, ba'da ashar, kami memutuskan untuk mulai melakukan perjalanan pulang. Berangkat dari kantor PW Muhammadiyah Jawa Tengah, kemudian naik angkot ke Stasiun Poncol. Sampai di stasiun, langkah langsung tertuju ke loket pembelian tiket. Melihat tulisan di kaca loket, raut muka kami langsung berubah. TEMPAT DUDUK HABIS. Begitulah inti tulisan itu. Sedih, tegang, khawatir, tapi untung masih bisa senyum :) Mungkin kalau paginya kami bisa menyempatkan waktu untuk beli tiket, tidak akan begini raut mukanya. Jangan dikira kami naik kereta kelas Bisnis/Eksekutif. Tapi EKONOMI, kereta kelas tiga yang harus mengalah ketika ada kereta Bisnis/Eksekutif yang nyuwun sewu lewat.

Kereta berangkat pukul 19.00 waktu stasiun Poncol. Melihat orang yang antri sholat aja uda ketahuan, penumpang kreta Tawang Jaya (nama kretanya) pasti rame, bejubel. Betul saja, untuk naik saja kami bingung mau lewat mana. Semua pintu penuh dengan penumpang. Dengan usaha dan upaya, masuk juga akhirnya. Di dalam, keadaan lebih seram lagi tiap penumpang yg berdiri hanya mendapat jatah 20x20 cm untuk berdiri. Bayangkan!! Keadaan ini hampir merata di seluruh gerbong. WaW. Subhanallah. Keadaan ini bertambah parah dengan keterlambatan pemberangkatan kereta selama 30 menit serta kipas dan lampu mati. Untungnya, beberapa penumpang di sekitar kami punya selera humor. Terbitlah senyum-senyum gembira hingga akhirnya berbuah ngakak. :))

Selama perjalanan, dialog dengan penumpang lain jangan dilewatkan. Inilah yang dapat mengurangi kejenuhan dan kelelahan berdiri. Minimal nanya, 'mau kemana, Mas?'. 'Ke Jakarta, Neng.'. 'Ooo, sama dong. Kerja atau kuliah atau...'. dan belanjut hingga ke percakapan lainnya. Siapa tau jodoh ketemu di kereta :)

Perjalanan ini tidaklah ringan. Kadang kami dihadapkan dengan keegoisan penumpang yang mendapatkan tempat duduk (atau kami yang egois ya?). Keengganan mereka untuk berbagi tempat duduk adalah hak mereka karena mereka telah membeli tiket. Dan (mungkin) kebodohan kami karena sudah tau tiket tempat duduk habis, tapi masih dibeli juga. Ya sudahlah. Mental sosial kita diuji disaat seperti ini. Suatu hal yang mungkin tidak akan didapatkan jika naik kereta kelas Bisni atau Eksekutif. Inilah bijaknya rakyat yang konon katanya orang-orang bodoh, tidak berpendidikan, miskin, dll.

Perjalanan ini berat, Bung. Tidak mudah menanamkan presepsi di otak bahwa delapan jam itu singkat, Semarang-Jakarta itu dekat, dan berdiri serta bercanda itu nikmat. Banyak faktor-faktor lain yang mempengaruhi kerasnya otak menerima persepsi ini, kurangnya suplai oksigen mungkin salah satunya. Bahkan untuk sekedar tersenyumpun sulit. Yang ada malah :(.

[bersambung..]


trims to : http://i149.photobucket.com/albums/s74/arifperdana/jalan.jpg atas fotonya

Lanjut...

24 Oktober 2007

'ied mubarok

Taqabbalallahu minna wa minkum

Lanjut...

17 Januari 2007

Bingung ma temen

Why she can be like that ???


Alkisah. Temenku punya seorang temen. anggap aja namanya As. Mereka berdua udah lama ga ketemu, ya dua tahun setengah tahun lebih lah. Beberapa minggu yang lalu, temenku coba sms As, nanyain kabarnya, sekalian nanya bener temennya dah nikah. Anehnya As ga jawab apa yang temenku tanyain. Kalo baca smsnya sih, yaaaa, tau lah kalo dia mank lagi dalam masalah. Dia bilang kalo dia lagi butuh temen curhat, buat ngenampung seluruh isi hatinya (seluruh isi hati ? empedunya ikut ga yaa????).

Tapi yang temenku bingung, pas dia nawarin buat ngenampung teks curhatannya dia ga mau. Malahan dia pingin kalo yang dia tempatin curhat tu orang lain (kalo dibaca tulisannya sih, kayaknya orang yang ga dia kenal). Padahal sejak SMA mereka berdua tu terluhat ga pernah ada masalah. Malahan kadang-kadang si As tu ngomong rahasianya ke temenku itu yang rahasia tersebut ga dikasih tau ke orang lain.

Emang sih, si As (yang juga temenku) itu orangnya ga terlalu terbuka ma orang lain kecuali ke orang yang dah dia kenal/akrab. Dia sempat bilang kalo masalahnya agak pribadi.

Kisah ini aku tau setelah temenku mencurahkan isi hatinya ke aku. Aku sendiri juga bingung kok bisa begini....

Kenapa ya bisa begini. Apakah gara-gara dah lama ga ketemu jadi renggang hubungannya??? Tanya why ?
Lanjut...